RSS

Mengatasi Problem Sampah

27 Okt

SAMPAH merupakan masalah serius bagi bangsa Indonesia. Hingga kini masalah sampah belum terselesaikan. Karena, mungkin, sampah sudah dianggap sebagai teman dalam keseharian.

Sampah menjadi teman dalam setiap detak nafas kehidupan masyarakat. Beberapa tempat pembuangan akhir (TPA) tak dapat mengatasi kemembeludakan sampah. Hingga pabrik daur ulang pun tak sanggup menghabiskan.

Produksi sampah saat ini masih jadi momok. Sampah jadi penyebab penghidupan sekaligus kematian. Banjir terjadi akibat sampah yang menyesaki sungai. Banyak orang terjangkit berbagai penyakit. Jutaan manusia jadi korban, kerugian tak terkirakan. Akhirnya sampah menimbulkan trauma bagi manusia. Padahal, sampah adalah limbah yang diciptakan manusia.

Doktrin agama sudah tak lagi ampuh mendongkrak semangat sang pemeluk untuk senantiasa menghargai lingkungan. Ribuan pamflet “buanglah sampah ke tempatnya” yang terpampang di beberapa tempat strategis tidak lagi digubris. Yang lebih ironis, orang menerjemahkan pamflet itu dengan menyamaratakan semua tempat sebagai tempat sampah. Atau, orang sudah tak tahu lagi tempat sampah.

Jika kita mau sejenak memikirkan apa yang telah dilakukan beberapa orang, barangkali akan menggugah kesadaran kita. Bahwa semua ketidaknyamanan, ketidakaturan yang kita ciptakan, baik sengaja maupun tidak, kitalah yang bisa menyelesaikan.

Penuntasan masalah sampah harus dilakukan dari bawah. Yang paling banyak memproduksi sampah adalah lingkungan keluarga. Pembuat sampah terbesar dan terbanyak adalah keluarga. Karena itu cara mengatasi pun harus dari tingkat keluarga.
Paling Berbahaya Prof Zoeríaini Djamal Irwan (2009) mengidentifikasi limbah rumah tangga merupakan limbah paling berbahaya. Sebab, setiap hari rumah tangga berpotensi menghasilkan limbah dan menjadi penyebab berbagai penyakit menular.

Untuk mengatasi bisa dimulai dengan menyelesaikan persoalan sampah dari tingkat RT. Sebagai alternatif, sampah di tingkat RT yang dikumpulkan di satu tempat bisa diolah menjadi kompos sehingga tak perlu ada truk pengangkut sampah. Pertama-tama, sampah dipilah-pilah yang masih direkonstruksi menjadi produk kerajinan. Sampah yang sudah tak dapat digunakan untuk kerajinan bisa diolah menjadi kompos. Dan, cara membuat kompos bisa disesuaikan dengan jenis sampah. Jika dedaunan bisa dalam waktu empat hari kompos sudah bisa jadi. Namun plastik dan sejenisnya bisa memakan waktu sampai sebulan.

Ada beberapa keuntungan jika program itu bisa dilaksanakan secara maksimal. Pertama, pembuatan kompos mengurangi biaya pupuk bagi petani. Sebab, pupuk saat ini terlalu mahal buat petani dengan panen yang tak lagi menentu. Kompos (pupuk alami) bisa mengembalikan struktur tanah menjadi normal. Sebab, pemakaian obat kimia membuat struktur tanah rusak sehingga akhirnya harus menggunakan pupuk nitrogen (urea, ZA, dan sejenisnya) lebih banyak lagi.

Kompos akan mengembalikan tanah penuh nitrogen dan zat lain yang dibutuhkan tanaman. Selain itu, pupuk obat kimia akan merangsang berbagai penyakit. Pada tahun 70-an, petani belum mengenal pupuk kimia. Saat itu petani juga belum mengenal hama yang menyerang tanaman seperti sekarang. Tanaman yang menggunakan pupuk alami kebal hama, karena batang tanaman, misalnya padi, lebih besar daripada sekarang.

Selain itu, warga sekitar bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari pengelolaan sampah. Sampah yang bisa didaur ulang bisa dijual kembali. Kompos yang dihasilkan bisa didistribusikan ke beberapa sektor pertanian. Lahan sawah, pot bunga, dan tanaman hias lain cocok disemai dengan kompos.

Kedua, makin memangkas biaya operasional pembuangan sampah. Pemerintah makin diuntungkan dengan keminiman biaya yang harus dikeluarkan untuk mengangkut sampah ke TPA.

Ketiga, pengelolaan sampah yang “rampung” membuat lingkungan makin asri. Pencemaran lingkungan pun berkurang. Banjir yang disebabkan oleh sampah tidak lagi menjadi hantu yang menakutkan. Namun untuk mewujudkan itu semua, butuh peran penting pemerintah.
Campur Tangan Pemerintah memiliki andil besar dalam mengatasi masalah sampah. Penyuluhan dan pelatihan seharusnya digalakkan. Sebab, selama ini masyarakat terlalu jaim dengan urusan sampah. Masyarakat menganggap pekerjaan merawat sampah sama najis dengan pemulung. Padahal, peran pemulung sangat penting. Kesalahan masyarakat berada pada titik pemahaman mereka. Kebanyakan menganggap sampah dan segenap pekerjanya adalah ìnajisî. Karena itulah masyarakat tak mau berurusan dengan sampah. Pemahaman itulah yang perlu diluruskan.

Pemerintah semestinya tak hanya berkutat pada urusan ekonomi global. Namun penyebab pembengkakan dana yang dikeluarkan perlu dipikirkan. Jika sampah bisa teratasi dengan baik, pemerintah bisa menekan biaya pengeluaran.

Penyuluhan harus segera diagendakan. Sebab, pertanian di negeri ini sudah tak bisa diandalkan lagi. Hanya beberapa sampel pertanian yang masih bisa mempertahankan kualitas. Namun pertanian yang berkualitas hanya bisa dinikmati orang-orang tertentu. Masyarakat bawah masih banyak yang tidak bisa mengonsumsi makanan yang sehat.

Padahal, bangsa yang besar adalah bangsa yang sehat. Dan, untuk menikmati makanan yang sehat tak perlu mengeluarkan biaya mahal jika masyarakat bisa memproduksi. Kemandirian itulah yang semestinya digalakkan sejak awal. (51)

– Abdul Rohim, Wakil Direktur Paradigma Institute Kudus

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 27pm10000000pmWed, 27 Oct 2010 18:09:23 +000009 2008 in Mengatasi Problem Sampah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: