RSS

SAMPAH TANGGUNG JAWAB KITA BERSAMA

20 Okt

SAMPAH ITU TANGGUNG JAWAB KITA SEMUA
“Kebersihan itu sebagian dari Iman” atau juga “Kebersihan pangkal kesehatan”
Dari semenjak kecil kita selalu diajarkan oleh orang tua dan guru-guru kita untuki selalu menjaga dan merawat lingkungan karena kebersihan adalah masalah yang sangat penting dalam ajaran islam oleh karena itu, ebagai orang yang beriman berarti kita harus membiasakan diri selalu menjaga kesucian. Salah satu cara menjaga kesucian adalah dengan terus berusaha untuk menciptakan kehidupan yang bersih baik lahir maupun bathin. Mengapa kita harus menjaga kebersihan, karena dengan menjaga kebersihan, hidup kita menjadi sehat. Ingat akan pepatah: “kebersihan pangkal kesehatan” Artinya jika kita ingin sehat, kunci utamanya adalah kebersihan diri, keluarga, dan lingkungan kita, sebaliknya jika diri, keluarga, dan lingkungan kita tidak bersih kemungkinan besar kita akan mudah terserang penyakit. Sebab semua sumber penyakit biasanya bersarang ditempat-tempat kotor. Lalu siapa yang bertanggung jawab sekelompok orang, keluarga atau satu orang dan bukan tanggung jawab pemerintah semata-mata, tetapi menjadi tanggung jawab setiap orang. Jadi, semua peribadi harus turut serta dalam upaya menjaga kebersihan bagi orang yang beriman adalah ibadah dan merupakan bagian penting dari iman tersebut. Sebagaimana Rasulullah SAW : “Kebersihan itu adalah sebagian dari Iman”.
Sungguh miris memang, apa sih yang salah dengan orang-orang kita, apakah perlu adanya suatu tindakan tertentu untuk memberikan kesadaran akan pentingnya kebersihan bagi diri kita, keluarga, dan lingkungan secara umum. Padahal dalam agama telah jelas disebutkan bahwa kebersihan sebagian dari iman jadi jika kita tidak peduli dengan kebersihan, apakah kita masih peduli dengan keimanan kita???
Dalam kehidupan sehari-hari, persoalan sampah rumah tangga sering kali dianggap sepele dan bahkan itu dianggap hanya urusan perempuan saja bukan urusan laki-laki dan mengapa sampah harus sering dikaitkan dengan perempuan. Adakah kaitannya dengan pandangan masyarakat yang melihat persoalan sampah dengan posisi perempuan yang selalu ditempatkan sebagai orang yang mengurus rumah tangga? Lalu, apakah karena perempuan yang selalu mengurusi masalah dapur, sehingga menimbulkan tanggapan seolah-olah perempuanlah yang memproduksi sampah lebih besar? Adilkah, kenapa perempuan yang kena getahnya?
Jika kita sama-sama akui bahwa yang menimbulkan sampah rumah tangga itu semua yang ada dalam keluarga bukan perorangan karena dari rumahlah sisa-sisa sayuran, bungkusan makanan, bungkusan rokok, bungkusan rinso, bahkan banyak lagi sampah yang ditimbulkan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi alangkah tidak adilnya, jika ada yang beranggapan bahwa sampah itu ditimbulkan oleh perempuan. Sampah bisa ditimbulkan oleh siapa saja. Apakah itu orang dewasa atau anak-anak, lelaki atau perempuan. Yang pasti sampah datang dari semua orang. Jadi, sekali lagi tidak adil, kalau persoalan sampah menjadi tanggung jawab perempuan dan tidak adil kalau hanya dikaitkan dengan perempuan.
Apalagi, bila kita mendengarkan kata-kata sampah, yang ada dalam pikiran kita adalah sesuatu hal yang menjijikan dan menimbulkan bau busuk. Kita memang bisa meminta para perempuan berperan aktif dalam mengelola sampah terutama sampah yang berasal dari rumah tangga. Kalau ibu-ibu rumah tangga bisa mengelola sampah, maka sampah itu bisa dikelola dari rumah. Bisa oleh siapa saja di rumah. Bisa dilakukan oleh ayah, bisa dilakukan oleh ibu, bisa dilakukan oleh anak perempuan dan juga bisa dilakukan oleh anak laki-laki.
Sebelum kita kelola sebaiknya sampah-sampah itu dipisahkan dalam beberapa kategori. Misalnya saja sampah basah dan juga sampah kering. Sebagian sampah juga bisa didaur ulang dan juga bisa dijadikan pupuk. Sampah juga bisa dibuat untuk hiasan bahkan dibuat untuk mainan anak-anak melalui tangan-tangan kreatif misalnya sampah dari kaleng bekas minuman sprite, coca cola, fanta, menjadi kapal-kapalan, perahu, dan lain-lain. Padahal, semua sampah yang ada disekelilig kita bisa dimanfaatkan tetapi agaknya, selama ini kita hanya bisa membuang atau membakar sampah-sampah yang ada di sekitar kita.
Kiranya, kita mengharapkan kepada masyarakat kita, termasuk ibu-ibu yang punya ketrampilan, bisa mengolah sampah menjadi sesuatu yang menarik. Bila kita tidak punya ilmunya, kita bisa meminta pihak pemerintah atau pihak organisasi masyarakt seperti LSM atau NGO agar sudi membagikan ilmunya kepada kita semua. Agar kita semua bisa memanfaatkan sampah-sampah yang ada di sekitar kita. Setidaknya kita bisa mengurangi populasi sampah yang ada.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 20pm10000000pmWed, 20 Oct 2010 16:14:29 +000014 2008 in Uncategorized

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: