RSS

Arsip Bulanan: Oktober 2010

Mengatasi Problem Sampah

SAMPAH merupakan masalah serius bagi bangsa Indonesia. Hingga kini masalah sampah belum terselesaikan. Karena, mungkin, sampah sudah dianggap sebagai teman dalam keseharian.

Sampah menjadi teman dalam setiap detak nafas kehidupan masyarakat. Beberapa tempat pembuangan akhir (TPA) tak dapat mengatasi kemembeludakan sampah. Hingga pabrik daur ulang pun tak sanggup menghabiskan.

Produksi sampah saat ini masih jadi momok. Sampah jadi penyebab penghidupan sekaligus kematian. Banjir terjadi akibat sampah yang menyesaki sungai. Banyak orang terjangkit berbagai penyakit. Jutaan manusia jadi korban, kerugian tak terkirakan. Akhirnya sampah menimbulkan trauma bagi manusia. Padahal, sampah adalah limbah yang diciptakan manusia.

Doktrin agama sudah tak lagi ampuh mendongkrak semangat sang pemeluk untuk senantiasa menghargai lingkungan. Ribuan pamflet “buanglah sampah ke tempatnya” yang terpampang di beberapa tempat strategis tidak lagi digubris. Yang lebih ironis, orang menerjemahkan pamflet itu dengan menyamaratakan semua tempat sebagai tempat sampah. Atau, orang sudah tak tahu lagi tempat sampah.

Jika kita mau sejenak memikirkan apa yang telah dilakukan beberapa orang, barangkali akan menggugah kesadaran kita. Bahwa semua ketidaknyamanan, ketidakaturan yang kita ciptakan, baik sengaja maupun tidak, kitalah yang bisa menyelesaikan.

Penuntasan masalah sampah harus dilakukan dari bawah. Yang paling banyak memproduksi sampah adalah lingkungan keluarga. Pembuat sampah terbesar dan terbanyak adalah keluarga. Karena itu cara mengatasi pun harus dari tingkat keluarga.
Paling Berbahaya Prof Zoeríaini Djamal Irwan (2009) mengidentifikasi limbah rumah tangga merupakan limbah paling berbahaya. Sebab, setiap hari rumah tangga berpotensi menghasilkan limbah dan menjadi penyebab berbagai penyakit menular.

Untuk mengatasi bisa dimulai dengan menyelesaikan persoalan sampah dari tingkat RT. Sebagai alternatif, sampah di tingkat RT yang dikumpulkan di satu tempat bisa diolah menjadi kompos sehingga tak perlu ada truk pengangkut sampah. Pertama-tama, sampah dipilah-pilah yang masih direkonstruksi menjadi produk kerajinan. Sampah yang sudah tak dapat digunakan untuk kerajinan bisa diolah menjadi kompos. Dan, cara membuat kompos bisa disesuaikan dengan jenis sampah. Jika dedaunan bisa dalam waktu empat hari kompos sudah bisa jadi. Namun plastik dan sejenisnya bisa memakan waktu sampai sebulan.

Ada beberapa keuntungan jika program itu bisa dilaksanakan secara maksimal. Pertama, pembuatan kompos mengurangi biaya pupuk bagi petani. Sebab, pupuk saat ini terlalu mahal buat petani dengan panen yang tak lagi menentu. Kompos (pupuk alami) bisa mengembalikan struktur tanah menjadi normal. Sebab, pemakaian obat kimia membuat struktur tanah rusak sehingga akhirnya harus menggunakan pupuk nitrogen (urea, ZA, dan sejenisnya) lebih banyak lagi.

Kompos akan mengembalikan tanah penuh nitrogen dan zat lain yang dibutuhkan tanaman. Selain itu, pupuk obat kimia akan merangsang berbagai penyakit. Pada tahun 70-an, petani belum mengenal pupuk kimia. Saat itu petani juga belum mengenal hama yang menyerang tanaman seperti sekarang. Tanaman yang menggunakan pupuk alami kebal hama, karena batang tanaman, misalnya padi, lebih besar daripada sekarang.

Selain itu, warga sekitar bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari pengelolaan sampah. Sampah yang bisa didaur ulang bisa dijual kembali. Kompos yang dihasilkan bisa didistribusikan ke beberapa sektor pertanian. Lahan sawah, pot bunga, dan tanaman hias lain cocok disemai dengan kompos.

Kedua, makin memangkas biaya operasional pembuangan sampah. Pemerintah makin diuntungkan dengan keminiman biaya yang harus dikeluarkan untuk mengangkut sampah ke TPA.

Ketiga, pengelolaan sampah yang “rampung” membuat lingkungan makin asri. Pencemaran lingkungan pun berkurang. Banjir yang disebabkan oleh sampah tidak lagi menjadi hantu yang menakutkan. Namun untuk mewujudkan itu semua, butuh peran penting pemerintah.
Campur Tangan Pemerintah memiliki andil besar dalam mengatasi masalah sampah. Penyuluhan dan pelatihan seharusnya digalakkan. Sebab, selama ini masyarakat terlalu jaim dengan urusan sampah. Masyarakat menganggap pekerjaan merawat sampah sama najis dengan pemulung. Padahal, peran pemulung sangat penting. Kesalahan masyarakat berada pada titik pemahaman mereka. Kebanyakan menganggap sampah dan segenap pekerjanya adalah ìnajisî. Karena itulah masyarakat tak mau berurusan dengan sampah. Pemahaman itulah yang perlu diluruskan.

Pemerintah semestinya tak hanya berkutat pada urusan ekonomi global. Namun penyebab pembengkakan dana yang dikeluarkan perlu dipikirkan. Jika sampah bisa teratasi dengan baik, pemerintah bisa menekan biaya pengeluaran.

Penyuluhan harus segera diagendakan. Sebab, pertanian di negeri ini sudah tak bisa diandalkan lagi. Hanya beberapa sampel pertanian yang masih bisa mempertahankan kualitas. Namun pertanian yang berkualitas hanya bisa dinikmati orang-orang tertentu. Masyarakat bawah masih banyak yang tidak bisa mengonsumsi makanan yang sehat.

Padahal, bangsa yang besar adalah bangsa yang sehat. Dan, untuk menikmati makanan yang sehat tak perlu mengeluarkan biaya mahal jika masyarakat bisa memproduksi. Kemandirian itulah yang semestinya digalakkan sejak awal. (51)

– Abdul Rohim, Wakil Direktur Paradigma Institute Kudus

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 27pm10000000pmWed, 27 Oct 2010 18:09:23 +000009 2008 in Mengatasi Problem Sampah

 

Sehari, 340 m3 Sampah di Kebumen Tak Terangkut

Sehari, 340 m3 Sampah di Kebumen Tak Terangkut

Kebumen, CyberNews. Volume timbunan sampah di Kabupaten Kebumen terus meningkat. Namun sarana dan prasarana yang dimilik oleh Pemkab Kebumen masih terbatas. Akibatnya, penanganan sampah masih belum optimal.

Dari data Bidang Kebersihan dan Pertamanan pada Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kebumen diketahui, setiap hari volume sampah yang dikelola oleh Pemkab Kebumen mencapai 587,61 m3. Namun hanya 247 m3 sampah atau 42 persen saja yang bisa terangkut petugas kebersihan ke tempat pembuangan akhir (TPA) Kaligending, Karangsambung maupun TPA Semali, Sempor. Artinya masih tersisa 340,61 m3 sampah yang tidak terangkut hingga TPA.

Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan, Ir Bambang Sunaryo MSi didampingi Kepala Seksi Kebersihan dan Pertamanan Ir Misrodin, menyebutkan, volume timbunan sampah terbesar berada di cakupan wilayah Gombong yang bisa mencapai 240,32 m3/hari. Namun yang terangkut hanya 60 m3/hari atau 25 persen. Untuk wilayah Kebumen timbunan sampah 221,063 m3/hari sedangkan yang terangkut hanya 62 persen atau 138 m3/hari.

“Belum optimalnya penanganan sampah di wilayah Kebumen karena minimnya sarana dan prasarana kebersihan utamanya keterbatasan armada pengangkut sampah,” ujar Bambang Sunaryo kepada Suara Merdeka, Jumat (5/2).

Dia mencontohkan, dump truck yang dimiliki Pemkab hanya 11 unit. Delapan unit melayani wilayah Kebumen, satu unit wilayah Karanganyar dan dua unit di wilayah Gombong. Selain itu sarana penunjang berupa arm roll hanya tujuh unit, dua melayani Gombong dan Karanganyar dan 5 unit melayani Kebumen dan Prembun.

“Selain itu, banyak armada yang saat ini kondisinya sudah tua sehingga tidak bisa beroperasi secara maksimal,” imbuhnya.

Bambang mengakui, penanganan masalah sampah semakin mendesak. Mengingat volume timbunan sampah akan terus meningkat. Hal itu dipengaruhi tingkat pertumbuhan penduduk, dan ekonomi masyarakat. Semakin tinggi tingkat pendapatan sesorang, semakin banyak sampah yang dihasilkan.

“Idealnya peningkatan volume sampah dibarengi dengan peningkatan sarana dan prasarana penunjang. Namun karena keterbatasan anggaran, kebutuhan tersebut belum terpenuhi secara optimal,” ujarnya.

Selain keterbatasan armada, minimnya personil juga mengakibatkan penanganan sampah kurang maksimal. Banyak petugas kebersihan memasuki masa pensiun. Sedangkan penambahan pegawai baru tidak bisa dilakukan karena terbentur peraturan.  Untuk itu perlu kerjasama lintas sektoral dalam pengolahan sampah seperti mengolah menjadi pupuk kompos.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 26am10000000amTue, 26 Oct 2010 05:12:02 +000012 2008 in 340 m3 Sampah di Kebumen Tak Terangkut

 

SAMPAH TANGGUNG JAWAB KITA BERSAMA

SAMPAH ITU TANGGUNG JAWAB KITA SEMUA
“Kebersihan itu sebagian dari Iman” atau juga “Kebersihan pangkal kesehatan”
Dari semenjak kecil kita selalu diajarkan oleh orang tua dan guru-guru kita untuki selalu menjaga dan merawat lingkungan karena kebersihan adalah masalah yang sangat penting dalam ajaran islam oleh karena itu, ebagai orang yang beriman berarti kita harus membiasakan diri selalu menjaga kesucian. Salah satu cara menjaga kesucian adalah dengan terus berusaha untuk menciptakan kehidupan yang bersih baik lahir maupun bathin. Mengapa kita harus menjaga kebersihan, karena dengan menjaga kebersihan, hidup kita menjadi sehat. Ingat akan pepatah: “kebersihan pangkal kesehatan” Artinya jika kita ingin sehat, kunci utamanya adalah kebersihan diri, keluarga, dan lingkungan kita, sebaliknya jika diri, keluarga, dan lingkungan kita tidak bersih kemungkinan besar kita akan mudah terserang penyakit. Sebab semua sumber penyakit biasanya bersarang ditempat-tempat kotor. Lalu siapa yang bertanggung jawab sekelompok orang, keluarga atau satu orang dan bukan tanggung jawab pemerintah semata-mata, tetapi menjadi tanggung jawab setiap orang. Jadi, semua peribadi harus turut serta dalam upaya menjaga kebersihan bagi orang yang beriman adalah ibadah dan merupakan bagian penting dari iman tersebut. Sebagaimana Rasulullah SAW : “Kebersihan itu adalah sebagian dari Iman”.
Sungguh miris memang, apa sih yang salah dengan orang-orang kita, apakah perlu adanya suatu tindakan tertentu untuk memberikan kesadaran akan pentingnya kebersihan bagi diri kita, keluarga, dan lingkungan secara umum. Padahal dalam agama telah jelas disebutkan bahwa kebersihan sebagian dari iman jadi jika kita tidak peduli dengan kebersihan, apakah kita masih peduli dengan keimanan kita???
Dalam kehidupan sehari-hari, persoalan sampah rumah tangga sering kali dianggap sepele dan bahkan itu dianggap hanya urusan perempuan saja bukan urusan laki-laki dan mengapa sampah harus sering dikaitkan dengan perempuan. Adakah kaitannya dengan pandangan masyarakat yang melihat persoalan sampah dengan posisi perempuan yang selalu ditempatkan sebagai orang yang mengurus rumah tangga? Lalu, apakah karena perempuan yang selalu mengurusi masalah dapur, sehingga menimbulkan tanggapan seolah-olah perempuanlah yang memproduksi sampah lebih besar? Adilkah, kenapa perempuan yang kena getahnya?
Jika kita sama-sama akui bahwa yang menimbulkan sampah rumah tangga itu semua yang ada dalam keluarga bukan perorangan karena dari rumahlah sisa-sisa sayuran, bungkusan makanan, bungkusan rokok, bungkusan rinso, bahkan banyak lagi sampah yang ditimbulkan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi alangkah tidak adilnya, jika ada yang beranggapan bahwa sampah itu ditimbulkan oleh perempuan. Sampah bisa ditimbulkan oleh siapa saja. Apakah itu orang dewasa atau anak-anak, lelaki atau perempuan. Yang pasti sampah datang dari semua orang. Jadi, sekali lagi tidak adil, kalau persoalan sampah menjadi tanggung jawab perempuan dan tidak adil kalau hanya dikaitkan dengan perempuan.
Apalagi, bila kita mendengarkan kata-kata sampah, yang ada dalam pikiran kita adalah sesuatu hal yang menjijikan dan menimbulkan bau busuk. Kita memang bisa meminta para perempuan berperan aktif dalam mengelola sampah terutama sampah yang berasal dari rumah tangga. Kalau ibu-ibu rumah tangga bisa mengelola sampah, maka sampah itu bisa dikelola dari rumah. Bisa oleh siapa saja di rumah. Bisa dilakukan oleh ayah, bisa dilakukan oleh ibu, bisa dilakukan oleh anak perempuan dan juga bisa dilakukan oleh anak laki-laki.
Sebelum kita kelola sebaiknya sampah-sampah itu dipisahkan dalam beberapa kategori. Misalnya saja sampah basah dan juga sampah kering. Sebagian sampah juga bisa didaur ulang dan juga bisa dijadikan pupuk. Sampah juga bisa dibuat untuk hiasan bahkan dibuat untuk mainan anak-anak melalui tangan-tangan kreatif misalnya sampah dari kaleng bekas minuman sprite, coca cola, fanta, menjadi kapal-kapalan, perahu, dan lain-lain. Padahal, semua sampah yang ada disekelilig kita bisa dimanfaatkan tetapi agaknya, selama ini kita hanya bisa membuang atau membakar sampah-sampah yang ada di sekitar kita.
Kiranya, kita mengharapkan kepada masyarakat kita, termasuk ibu-ibu yang punya ketrampilan, bisa mengolah sampah menjadi sesuatu yang menarik. Bila kita tidak punya ilmunya, kita bisa meminta pihak pemerintah atau pihak organisasi masyarakt seperti LSM atau NGO agar sudi membagikan ilmunya kepada kita semua. Agar kita semua bisa memanfaatkan sampah-sampah yang ada di sekitar kita. Setidaknya kita bisa mengurangi populasi sampah yang ada.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 20pm10000000pmWed, 20 Oct 2010 16:14:29 +000014 2008 in Uncategorized

 

Tag:

Ayo Memanfaatkan Sampah Rumah Tangga

Semakin hari semakin tinggi gunungan sampah di TPA. Di kota kebumen juga menjadi masalah tersendiri karena sampah yang sudah diangkut dari tong-tong dipinggir kota oleh petugas kebersihan hanya dibuang ditempat akhir TPA dan tidak ada pemisahan sampah. Sebagian besar sampah yang masuk ke TPA katanya berasal dari sampah rumah tangga. Iya, sampah rumah kita semua.

Dari pada menggerutu dan menanti-nantikan aksi dari pemerintah, kita bisa memanfaatkan sampah rumah tangga sendiri untuk mengurangi masalah sampah ini. Anda tentu pernah tahu ada beberapa saudara kita yang bekerja sebagai pemulung dari tempat-tempat sampah atau tukang loak yang bisa membeli segala ‘sampah’ dirumah anda umumnya dengan menimbang berat barang yang anda kumpulkan.

Apa yang mereka pulung?

Apapun yang mereka bisa jual kembali baik secara langsung atau tidak langsung kepada para usahawan pendaur ulang. Plastik, bekas gelas/botol minum plastik, botol kaca, kertas, dus, atau apapun yang bisa didaur ulang alias bisa dimanfaatkan kembali.

Semakin bersih benda-benda di atas, semakin baik dan semakin mudah untuk didaur ulang. Kalau sampah yang bisa didaur ulang ini sudah tercampur dengan sampah basah dirumah anda, lebih susah memilahnya dan memanfaatkannya.

Apa yang dimaksud dengan sampah basah?

Segala sampah yang bisa membusuk. Sisa potongan sayur untuk memasak, daging, makanan sisa, daun-daun yang berguguran, potongan rumput, dsb.

Jadi bagaimana caranya memilah sampah?

Idealnya di rumah anda disediakan tiga buah tempat sampah;

1. untuk sampah basah atau kadang disebut sampah organik

2. untuk sampah plastik, kaleng, dan kaca

3. untuk sampah kertas

Sampah plastik, kaleng, kaca, dan kertas bisa anda kumpulkan dan jual ke tukang loak atau dibuang juga ke tempat pembuangan sampah dan kira-kira cukup membantu para pemulung untuk mendapatkan barang yang agak bersih.

Idealnya sih mungkin TPA pemerintah juga terdiri dari tiga kategori pembagian sampah ini,  tapi.. mungkin pemerintah menunggu percontohan dari para warganya dulu

Bagaimana dengan sampah basahnya? Bisa anda buang juga, namun lebih baik dimanfaatkan lagi untuk membuat kompos (pupuk alami) yang bisa dipakai untuk menyuburkan tanaman di pekarangan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 10am10000000amSun, 10 Oct 2010 10:58:51 +000058 2008 in Ayo Memanfaatkan Sampah Rumah Tangga