RSS

Petani Kebumen Larang TNI AD Latihan

Kebumen, CyberNews. Personil TNI AD yang akan mengadakan latihan di wilayah pesisir selatan Kabupaten Kebumen mendapat perlawanan dari petani di wilayah Urut Sewu, Senin (11/4). Para petani menggelar aksi pemblokiran di beberapa titik dan jalan desa serta penghadangan di badan jalan.

Ribuan massa sejak pagi berkonsentrasi di Desa Setrojenar, Kecamatan Buluspesantren, tidak jauh dari fasilitas Dislitbang AD yang menjadi pusat latihan dan ujicoba alutsista. Mereka mengancam jika TNI benar-benar melaksanakan latihan petani bakal mengambil tindakan massa.

Imam Zuhdi selaku koordinator aksi, mengatakan aksi digelar sejak malam hari dengan melaksanakan mujahadah dan ritual pembekalan tekad. “Jika TNI-AD nekad latihan di Urut Sewu, maka petani juga akan berbuat serupa,” ujar Imam Zuhdi dalam peryataan aksinya.

Dari pantuan Suara Merdeka, hingga siang hari (11/4), Desa Setrojenas sangat mencekam. Seperti hendak perang, warga membangun benteng-benteng blokade di ruas jalan desa. Para pemuda dan perempuan desa juga akan berpatisipasi dalam gerakan
penolakan ini.

Sedangkan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Kebumen Bupati Kebumen, H Buyar Winarso SE menggelar pertemuan dengan Kapolres dan Komandan Kodim 0709. Hadir pula Komandan Korem 072 Pamungkas.

Kegentingan semacam ini memang bukan kali pertama terjadi di Urut Sewu. Insiden terakhir terjadi paska aksi FPPKS pada 23 Maret lalu. Nyaris terjadi penghakiman massa terhadap seorang anggota TNI. Massa saat itu mempersenjatai diri dengan bambu runcing. Bahkan petani dan pemuda yang datang dari beberapa desa membawa segala macam senjata tajam.

( Supriyanto / CN27 / JBSM )

 
1 Comment

Posted by pada 22 20am5000000amFri, 20 May 2011 05:11:04 +000011 2008 in Uncategorized

 

Kronologi Penyerangan TNI terhadap Petani Urut Sewu Kebumen

Hari ini, 16 April 2011, FPPKS (Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan) mengadakan ziarah kubur ke makam 5 anak yang meninggal terkena jeblugan bom mortir pada 2 Maret 1997. Anggota FPPKS yang melakukan ziarah sebanyak 30an orang, laki dan perempuan. Acara dimulai sekitar pukul 09.30 dengan doa bersama. Makam 5 anak tersebut terletak di dukuh Godi, Setrojenar, sekitar 400 meter dari kantor TNI.

Usai berziarah, rombangan FPPKS mendapat informasi bahwa TNI merusak blokade yang dibuat oleh warga sejak beberapa hari sebelumnya –11 April 2011. Mendengar kabar itu, rombongan menuju ke tempat blokade, bergabung dengan pemuda dan petani Setrojenar yang sudah di tempat, untuk membangun kembali blokade yang rusak. Warga membangun blokade tersebut dengan pohon-pohon yang di tebang di sekitarnya.

Pada hari ini juga, TNI sedang mengadakan latihan di wilayah Ambal, yang letaknya di sebelah timur kecamatan Buluspesantren. Warga meminta agar TNI tidak usah memprovokasi warga Setrojenar dan sekitarnya dengan merusak blokade yang sudah dibuat. Apalagi, latihan TNI berada di wilayah yang cukup jauh di timur lokasi, di kecamatan Ambal.

Selain membangun kembali blokade yang dirusak TNI, sekitar pukul 11.00 WIB, warga membuat beberapa titik blockade tambahan. Termasuk juga merobohkan pintu gerbang utama menuju pusat latihan TNI yang berada di sebelah utara. Pembangunan blockade ini merupakan sikap penentangan terhadap TNI mengadakan kegiatan latihan di tempat itu. Warga menghendaki agar kawasan Urut Sewu, nama untuk daerah pantai Selatan Kebumen, sebagai kawasan pertanian dan pariwisata.

Setelah itu, warga yang kemudian berjumlah sekitar 100 orang bergerak ke arah selatan, hampir mendekati pantai. Dimana disitu dibangun sebuah rumah tingkat tiga yang diperuntukan untuk menara TNI. Bangunan tersebut dibangun di atas tanah warga. Sebagian bangunan tersebut dirusak oleh warga.

Setelah itu, warga kembali ke utara, ke desa. Pada saat kembali, TNI sudah berbaris di jalan dalam kondisi siap tembak. Saat itu, warga berkeyakinan bahwa TNI tidak akan menyerang warga, paling hanya menakut-nakuti. Tapi ternyata keyakinan itu salah, para tentara itu menyerang warga, serta ada yang menembakan peluru tajam. 6 orang terkena tembak. Selain menembak, tentara juga ada yang memukul dengan popor senapan. Barang-barang yang dimiliki warga (seperti handphone) direbut dan dihancurkan tentara.

Ketika kejadian tersebut, polisi tidak ada. Mereka baru datang setelahnya. Mereka yang terkena tembakan dan pukulan dibawa oleh polisi ke Mapolres Kebumen. Karena kondis parah, lalu di bawah ke RSUD kebumen. Sementara beberapa orang diinterogasi di Mapolres Kebumen. Sampai sore, tentara melakukan sweeping ke rumah-rumah warga.

Sampai tulisan ini dibuat, tercatat ada 10 orang yang luka, dan posisinya di rumah sakit. Beberapa warga diinterogasi di Mapolres Kebumen. Beberapa nama korban di bawah ini:
Nama Alamat Tempat dirawat Jenis Luka

  1. Kusriyanto (29 th) Setrojenar RSUD Kebumen Bagian pantat kanan ditembak peluru
  2. Samsudin (27 th) Setrojenar RSUD Kebumen Luka memar bagian punggung kanan, luka robek bagian kepala atas kanan karena dipukul senjata
  3. Surip Supangat (kades Setrojenar) (38 th) Setroejnar RSUD Kebumen Bagian pantat dan tangan karena tembakan
  4. Mustofa (65 th) Setrojenar RSUD kebumen Luka memar, bengkak pada mata kiri dan kepala dipukul popor senjata
  5. Aris Panji (45 th) Divisi Litbang FPPKS RSUD kebumen Luka robek diatas pelipis mata kanan, muka robek, mulut bagian kiri juga robek
  6. Mulyanto (21 th) Setrojenar RSUD kebumen Luka tembak bagian punggung
  7. Kasantri (19 th) Setrojenar RSUD Kebumen, Lulusan STM 2010 Patah tulang kaki kiri
  8. Sarwadi (29 th) Setrojenar RSUD kebumen Luka Tembak bagian paha kanan atas
  9. Ilyas (35-an th) Setrojenar PKU Gombong Luka tembak punggung kiri
  10. Martijo (32 th) Setrojenar RSUD Kebumen Luka Tembak pada bagian tangan kanan

Kebumen, 16 April 2011, pukul 10.30 WIB.

Tulisan dari tuturan Aris Panji, divisi Litbang FPPKS (yang juga menjadi korban) serta lainnya, yang sedang dirawat di RSUD Kebumen (Bersambung.)  http://indipt.org/

 
Leave a comment

Posted by pada 22 18am4000000amMon, 18 Apr 2011 08:11:04 +000011 2008 in Kronologi Penyerangan TNI terhadap Petani Urut Sewu Kebumen

 

Mengatasi Problem Sampah

SAMPAH merupakan masalah serius bagi bangsa Indonesia. Hingga kini masalah sampah belum terselesaikan. Karena, mungkin, sampah sudah dianggap sebagai teman dalam keseharian.

Sampah menjadi teman dalam setiap detak nafas kehidupan masyarakat. Beberapa tempat pembuangan akhir (TPA) tak dapat mengatasi kemembeludakan sampah. Hingga pabrik daur ulang pun tak sanggup menghabiskan.

Produksi sampah saat ini masih jadi momok. Sampah jadi penyebab penghidupan sekaligus kematian. Banjir terjadi akibat sampah yang menyesaki sungai. Banyak orang terjangkit berbagai penyakit. Jutaan manusia jadi korban, kerugian tak terkirakan. Akhirnya sampah menimbulkan trauma bagi manusia. Padahal, sampah adalah limbah yang diciptakan manusia.

Doktrin agama sudah tak lagi ampuh mendongkrak semangat sang pemeluk untuk senantiasa menghargai lingkungan. Ribuan pamflet “buanglah sampah ke tempatnya” yang terpampang di beberapa tempat strategis tidak lagi digubris. Yang lebih ironis, orang menerjemahkan pamflet itu dengan menyamaratakan semua tempat sebagai tempat sampah. Atau, orang sudah tak tahu lagi tempat sampah.

Jika kita mau sejenak memikirkan apa yang telah dilakukan beberapa orang, barangkali akan menggugah kesadaran kita. Bahwa semua ketidaknyamanan, ketidakaturan yang kita ciptakan, baik sengaja maupun tidak, kitalah yang bisa menyelesaikan.

Penuntasan masalah sampah harus dilakukan dari bawah. Yang paling banyak memproduksi sampah adalah lingkungan keluarga. Pembuat sampah terbesar dan terbanyak adalah keluarga. Karena itu cara mengatasi pun harus dari tingkat keluarga.
Paling Berbahaya Prof Zoeríaini Djamal Irwan (2009) mengidentifikasi limbah rumah tangga merupakan limbah paling berbahaya. Sebab, setiap hari rumah tangga berpotensi menghasilkan limbah dan menjadi penyebab berbagai penyakit menular.

Untuk mengatasi bisa dimulai dengan menyelesaikan persoalan sampah dari tingkat RT. Sebagai alternatif, sampah di tingkat RT yang dikumpulkan di satu tempat bisa diolah menjadi kompos sehingga tak perlu ada truk pengangkut sampah. Pertama-tama, sampah dipilah-pilah yang masih direkonstruksi menjadi produk kerajinan. Sampah yang sudah tak dapat digunakan untuk kerajinan bisa diolah menjadi kompos. Dan, cara membuat kompos bisa disesuaikan dengan jenis sampah. Jika dedaunan bisa dalam waktu empat hari kompos sudah bisa jadi. Namun plastik dan sejenisnya bisa memakan waktu sampai sebulan.

Ada beberapa keuntungan jika program itu bisa dilaksanakan secara maksimal. Pertama, pembuatan kompos mengurangi biaya pupuk bagi petani. Sebab, pupuk saat ini terlalu mahal buat petani dengan panen yang tak lagi menentu. Kompos (pupuk alami) bisa mengembalikan struktur tanah menjadi normal. Sebab, pemakaian obat kimia membuat struktur tanah rusak sehingga akhirnya harus menggunakan pupuk nitrogen (urea, ZA, dan sejenisnya) lebih banyak lagi.

Kompos akan mengembalikan tanah penuh nitrogen dan zat lain yang dibutuhkan tanaman. Selain itu, pupuk obat kimia akan merangsang berbagai penyakit. Pada tahun 70-an, petani belum mengenal pupuk kimia. Saat itu petani juga belum mengenal hama yang menyerang tanaman seperti sekarang. Tanaman yang menggunakan pupuk alami kebal hama, karena batang tanaman, misalnya padi, lebih besar daripada sekarang.

Selain itu, warga sekitar bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari pengelolaan sampah. Sampah yang bisa didaur ulang bisa dijual kembali. Kompos yang dihasilkan bisa didistribusikan ke beberapa sektor pertanian. Lahan sawah, pot bunga, dan tanaman hias lain cocok disemai dengan kompos.

Kedua, makin memangkas biaya operasional pembuangan sampah. Pemerintah makin diuntungkan dengan keminiman biaya yang harus dikeluarkan untuk mengangkut sampah ke TPA.

Ketiga, pengelolaan sampah yang “rampung” membuat lingkungan makin asri. Pencemaran lingkungan pun berkurang. Banjir yang disebabkan oleh sampah tidak lagi menjadi hantu yang menakutkan. Namun untuk mewujudkan itu semua, butuh peran penting pemerintah.
Campur Tangan Pemerintah memiliki andil besar dalam mengatasi masalah sampah. Penyuluhan dan pelatihan seharusnya digalakkan. Sebab, selama ini masyarakat terlalu jaim dengan urusan sampah. Masyarakat menganggap pekerjaan merawat sampah sama najis dengan pemulung. Padahal, peran pemulung sangat penting. Kesalahan masyarakat berada pada titik pemahaman mereka. Kebanyakan menganggap sampah dan segenap pekerjanya adalah ìnajisî. Karena itulah masyarakat tak mau berurusan dengan sampah. Pemahaman itulah yang perlu diluruskan.

Pemerintah semestinya tak hanya berkutat pada urusan ekonomi global. Namun penyebab pembengkakan dana yang dikeluarkan perlu dipikirkan. Jika sampah bisa teratasi dengan baik, pemerintah bisa menekan biaya pengeluaran.

Penyuluhan harus segera diagendakan. Sebab, pertanian di negeri ini sudah tak bisa diandalkan lagi. Hanya beberapa sampel pertanian yang masih bisa mempertahankan kualitas. Namun pertanian yang berkualitas hanya bisa dinikmati orang-orang tertentu. Masyarakat bawah masih banyak yang tidak bisa mengonsumsi makanan yang sehat.

Padahal, bangsa yang besar adalah bangsa yang sehat. Dan, untuk menikmati makanan yang sehat tak perlu mengeluarkan biaya mahal jika masyarakat bisa memproduksi. Kemandirian itulah yang semestinya digalakkan sejak awal. (51)

- Abdul Rohim, Wakil Direktur Paradigma Institute Kudus

 
Leave a comment

Posted by pada 22 27pm10000000pmWed, 27 Oct 2010 18:09:23 +000009 2008 in Mengatasi Problem Sampah

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.